DPRA Undang Densus 88


Minta Pendapat Atasi Teror terhadap Kontraktor

BANDA ACEH – Menanggapi maraknya aksi teror kepada kontraktor yang sedang mengerjakan proyek fisik APBN, APBA, dan APBK, Pimpinan DPRA melakukan pertemuan dengan Kadensus 88 Antiteror Polda Aceh, AKBP Sutry Hamdani untuk mencarikan solusi bagaimana mengatasi persoalan yang sedang terjadi. Kadensus 88 secara tegas mengatakan, salah satu penyebab maraknya aksi teror karena kontraktor takut melapor ke pihak keamanan.

“Jadi, aksi pembakaran alat berat dan pencurian komponen alat berat yang terjadi di lokasi proyek, bukan karena aparat keamanan belum memberikan keamanan kepada kontraktor dan lokasi proyek tapi karena banyak kontraktor yang diteror takut melaporkan peneror kepada aparat keamanan dan Densus 88,” ungkap Kadensus 88 Antiteror Polda Aceh, AKBP Sutry Hamdani kepada Serambi usai pertemuan dengan Wakil Ketua DPRA, Drs H Sulaiman Abda, Minggu (30/8) di Banda Aceh.

Sutry menjelaskan, pertemuannya dengan Pimpinan DPRA atas undangan Wakil Ketua II DPRA Drs H Sulaiman Abda. Pimpinan DPRA meminta pendapat dan pemikirannya, bagaimana cara yang tepat untuk mengamankan pelaksanaan proyek fisik di lapangan agar kontraktor bisa mengerjakan proyek dengan aman dan pada akhir tahun semua proyek APBN, APBA, dan APBK 2010 bisa selesai tepat waktu dengan kualitas yang standar.

Sebelumnya, Kapolda Aceh Irjen Pol Fajar Prihantoro pernah menyatakan Polda Aceh bersama Densus 88 siap mengamankan pelaksanaan proyek APBN, APBA, dan APBK 2010 dari ancaman dan gangguan teror yang dapat menghambat pelaksanaan pembangunan di Aceh. Kepada panitia tender maupun kontraktor yang merasa diancam, diminta segera melapor kepada aparat kemanan terdekat dan Densus 88 jika ada ancaman atau teror.

Surat perintah Kapolda Aceh itu sudah dikirim ke seluruh Satuan Kerja Pemerintah Aceh (SKPA) di provinsi maupun Satuan Kerja Pemerintah Kabupaten/Kota (SKPK) di kabupaten/kota. Panitia tender dan kontraktor yang diteror atau diancam oleh sekelompok orang dan telah melaporkan penerornya kepada aparat keamanan terdekat atau kepada Densus 88 Antiteror Polda Aceh, pengancamnya telah diingatkan.

“Tapi jika para kontraktor yang merasa diancam atau diteror tidak melaporkan penerornya kepada Densus 88 Antiteror, bagaimana Densus bisa bertindak dan dasar untuk bertindaknya tidak ada,” ujar Sutry.

Kadensus 88 Antitetror Polda Aceh menyatakan, Aceh sudah damai dan tidak perlu takut lagi dengan berbagai pengutipan dan pemerasan pajak nanggroe atau lainnya yang dilakukan oleh orang tertentu dengan mengatasnamakan panglima ini dan panglima itu. Di Aceh, tegas Sutry, hanya ada satu panglima yaitu Panglima Kodam Iskandar Muda. Di gampong ada keuchik dan ditingkat kemukiman ada mukim. “Bukan panglima itu dan ini,” tandas Sutry.

Juga dijelaskan, penguasa wilayah di tingkat kecamatan ada tiga lembaga yang disebut muspika, yaitu camat, kapolsek, dan danramil. “Bukan panglima wilayah ini dan panglima wailayah itu,” lanjutnya menegaskan.

Menurut Sutry, kalau masyarakat masih terus takut terhadap orang-orang tertentu yang menyatakan dirinya sebagai panglima ini dan panglima itu, dan tidak mau melapor kepada aparat keamanan terdekat atau Densus 88, sama artinya masyarakat masih suka hidup dalam suasana konflik dan dijajah oleh sekelompok orang, seperti pada masa penjajahan kolonial Belanda.

Padahal, katanya, masyarakat Aceh menyatakan tidak pernah dijajah oleh Belanda, tapi kenapa dengan seseorang atau sekelompok orang saja yang meneror malah ketakutan. Republik ini sudah merdeka 65 tahun, tak perlu ada yang ditakutkan jika kita benar dan tidak melanggar hukum. Karena itu masyarakat dan kontraktor Aceh tidak perlu takut lagi dengan para peneror. “Peneror harus dilawan dengan cara melaporkan kepada aparat keamanan terdekat atau Densus 88,” ujar Sutry dengan geram.

Otak atau pelaku aksi pembakaran alat berat, ungkap Sutry dengan nada tinggi, dapat diduga adalah peneror yang meminta upeti kepada kontraktor, tapi tak dipenuhi. Atau motif lain, kontraktor pemenang tender disuruh mundur oleh pesaingnya namun tak mau mundur. Maka pada waktu melaksanakan pekerjaan diganggu melalui pihak ketiga yang suka dibayar untuk menjadi peneror. Bentuk gangguannya, antara lain melarang buruh bekerja, mencuri komponen alat berat sampai pada membakar alat berat pada malam hari yang berada di lokasi proyek.

Tak sehat lagi
Ketua Gapensi Aceh, Lukman CM mengatakan, iklim usaha kontruksi di Aceh sekarang sudah tak sehat lagi. Persaingan untuk mendapatkan pekerjaan tidak lagi menggunakan azas profesional, transparansi, dan akuntabel kemampuan perusahaan, tapi sudah pada ego wilayah kelompok tertentu. “Kalau ada proyek di daerahnya, pekerjaan itu harus jatuh kepada kelompoknya. Jika tak diberikan kepadanya, maka kontraktor yang mengerjakan proyek tersebut terus diganggu, dari mulai pemerasan atau minta upeti yang tidak rasional, sampai pada pencurian komponen alat kerja dan pembakaran,” kata Lukman.

Gangguan yang dialami kontraktor di Aceh, menurutnya hampir pada tahap darurat, karena itu sudah sewajarnya aparat keamanan di Aceh, baik TNI maupun Polri dan Densus 88 Antiteror segera bertindak. Berdasarkan laporan dari anggota Gapensi Aceh dan kabupaten/kota yang sedang bekerja di lapangan, gangguan di lokasi proyek, terutama permintaan uang sudah sangat luar biasa. Bahkan ada yang menggunakan mobil khusus, keliling Aceh masuk ke lokasi proyek melakukan tindakan teror dari mulai minta upeti sampai kepada pencurian komputer, alat berat bahkan pembakaran.

Wakil Ketua II Bidang Pembangunan DPRA, Drs Sulaiman Abda mengharapkan aparat keamanan perlu memberikan rasa aman kepada dunia kontraktor di Aceh. Apalagi teror yang terjadi terhadap pelaksana proyek sudah meningkat dan sudah sampai tahap meresahkan masyarakat dan pelaku konstruksi. “Aparat keamanan perlu segera bertindak tegas terhadap pelaku teror, agar pada akhir tahun nanti semua proyek fisik APBN, APBA, dan APBK bisa selesai tepat waktu dan rakyat dapat memanfaatkannya,” kata politisi dari Partai Golkar tersebut.(her)

Sumber: serambinews

2 thoughts on “DPRA Undang Densus 88

  1. Harapan kami para kontraktor dapat menyelesaikan pekerjaanya dengan aman tanpa ada gangguan dari pihak yang tidak bertanggung jawab. Marilah kita dukung bersama agar daerah kita aman selalu dan kondusif. Selamat bekerja bangunlah Aceh untuk kita bersama. Wass..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s