Yurisprudensi Putusan Mahkamah Agung Tentang KUHPidana


Artikel ini adalah kumpulan Putusan Mahkamah Agung RI yang telah menjadi Yurisprudensi. Kumpulan Yurisprudensi ini merupakan hasil searching melalui mensen pencari Google. Semoga bermanfaat buat kita semua

UMUM

1.             I.2. Perubahan dalam perundang-undangan.

Ketentuan pasal 1 ayat 2 K.U.H.P. berlaku juga dalam perkara yang se­dang dalam tingkat banding.

Dicabutnya Undang-undang Pengendalian Harga tahun 1948 dengan di­ganti dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No. 9 tahun 1962, bukanlah merupakan perubahan perundang-undangan, karena prinsip bahwa harga-harga dan jasa dari barang-barang harus diawasi tetap dipertahankan.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 23-5-1970 No. 27 K/Kr/1969.

Dalam Perkara : Kwee Tjin Hok.

dengan Susunan Majelis : 1. Prof. R. Subekti S.H.; 2. Indroharto S.H.;  3. Busthanul Arifin S.H.

2.             I.2. Perubahan dalam perundang-undangan.

Penggantian Undang-undang Deviezen tahun 1940 dengan Undang-undang tahun 1964 No. 32 tidak merupakan perubahan perundang-undangan dalam arti pasal 1 ayat 2 K.U.H.P.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 1-3-1969 No. 136 K/Kr/1966.

Dalam Perkara : Jang Thung Ming alias Joung Tjoeng Jong.

dengan Susunan Majelis : 1. Prof. R. Subekti S.H.; 2. M. Abdurrachman S.H.; 3. Busthanul Arifin SH.; 4. Indroharto S.H.

3.             I.2. Perubahan dalam perundang-undangan.

Karena Undang-undang No. 17/1964 (tentang cheque kosong) telah di­cabut dengan Undang-undang No. 12/1971 dan terhadap terdakwa-terdakwa diperlakukan pasal 1 ayat 2 K.U.H.P., terdakwa-terdakwa dilepaskan dari Segala tuntutan hukum.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 27-5-1972 No. 72 K/Kr/1970.

Dalam Perkara : 1. Mohamad Tohan Iljas; 2. Wilson Hutauruk.

dengan Susunan Majelis: 1. Prof. Sardjono S.H.; 2. Busthanul Arifin S.H.;     3. Z. Asikin Kusumah Atmadja S.H.

4.             I.2. Perubahan dalam perundang-undangan.

Perubahan yang terjadi karena peraturan “Dekon” tidak merupakan perubahan dalam perundang-undangan dalam arti pasal 1 ayat 2 K.U.H.P.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 22-10-1963 No. 118 K/Kr/1963.

Dalam Perkara : Tjhia Kia Hin.

5.             I.2. Perubahan dalam perundang-undangan.

Perubahan nilai Rp. 25,- termaksud dalam pasal 364, 373, 379 dan 407 K.U.H.P. menjadi Rp. 250,- berdasarkan P.P.P.U. No. 16 tahun 1960 merupakan suatu perubahan dalam perundang-undangan dalam arti pasal 1 ayat 2 K.U.H.P.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 13-2-1962 No. 93 K/Kr/1961.

Dalam Perkara : Hadisoemarta alias Sukadi.

6.             I.2. Perubahan dalam perundang-undangan.

Karena pada waktu perkara terdakwa diadili oleh Pengadilan Tinggi Eko­nomi di Semarang Undang-Undang Beras 1948 telah dicabut dengan Perpu No. 8 tahun 1962, perbuatan terdakwa yang dilakukannya dalam tahun 1960-1961, berdasarkan pasal 1 ayat 2 K.U.H.P. tidak lagi merupakan kejahatan atau pelanggaran.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 7-4-1963 No. 37 K/Kr/1963.

Dalam Perkara : Haji Mohamad Has.

7.             I.2. Perubahan dalam perundang-undangan.

Karena berdasarkan keputusan Menteri Perdagangan tanggal 14 Maret 1963 semua peraturan tentang kewajiban mengadakan catatan yang ditetapkan da­lam atau berdasarkan pasal 9 Prijsbeheersching verordening 1948 dicabut, ma­ka perbuatan terdakwa yang dilakukan dalam tahun 1959, pada waktu per­karanya diadili oleh Pengadilan Tinggi Ekonomi Semarang pada bulan April 1963 berdasarkan pasal 1 ayat 2 K.U.H.P. tidak lagi merupakan kejahatan atau pelanggaran.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 2-6-1946 No. 13 K/Kr/1946.

Dalam Perkara : Lie Tjan Tie.

8.             I.2. Perubahan dalam perundang-undangan.

Keberatan yang diajukan penuntut kasasi: “bahwa Pengadilan Tinggi dan Pengadilan Negeri telah salah menerapkan hukum dengan mempergunakan Undang-Undang No. 24/PRP/1960, sedang undang-undang tersebut telah dicabut sejak tanggal 29 Maret 1971 dengan berlakunya Undang-Undang No. 3/1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

tidak dapat diterima karena dalam pasal 36 Undang-undang No. 3/1971 ditentukan bahwa yang harus diperlakukan adalah undang-undang yang berla­ku pada saat tindak pidana dilakukan; sedang dalam hal ini tindak pidana di­lakukan sebelum berlakunya Undang-undang No. 3/1971

Putusan Mahkamah Agung tgl. 19-11-1974 No. 54 K/Kr/1973.

Dalam Perkara : Haji Mustafa Umar.

dengan Susunan Majelis : 1. Prof. Oemar Seno Adji S.H.; 2. Purwosunu S.H.;

3. Busthanul Arifin S.H.

9.             I.2. Perubahan dalam perundangan-undangan.

Pada penggantian P.P. No. 20/1962 dengan P.P. No.20/1963 tidak ada perubahan mengenai norma-normanya, sehingga dalam hal ini pasal 1 ayat 2K.U.H.P. tidak dapat diperlakukan.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 22-12-1964 No. 22 K/Sip/1964.

Dalam Perkara : Kiai Haji Achmad Syarbini.

10.        I.2. Perubahan dalam perundang-undangan

Walaupun keadaan bahaya sudah dicabut dan dengan demikian semua peraturan-peraturan yang dikeluarkan berdasarkan Undang-undang Keadaan Bahaya juga turut hapus, namun karena masih ada peraturan-peraturan lain yang memuat larangan mengenai perhimpunan-perhimpunan tertentu, “grond idee” dari pada Undang-undang Keadaan Bahaya tidaklah berubah, maka tidaklah dapat dikatakan bahwa dalam hal ini telah ada perubahan penundang-undangan.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 7-1-1964 No. 143 K/Kr/1963.

Dalam Perkara : Joesoef bin Boestam.

11.        I.2. Perubahan dalam perundang-undangan.

Keberatan dalam memori kasasi : – bahwa dengan dicabutnya Peraturan Faktur mengenai barang-barang dalam perkara ini, yakni ban2 oto, oleh surat keputusan Menteri Perdagangan tgl. 12-6-1953 No. 499/M/1963 haruslah diperlakukan pasal 1 ayat 2 K.U.H.P.

Tidak dapat dibenarkan, karena Peraturan Faktur masih berlaku bagi 13 jenis barang, jadi perlunya faktur masih diakui sehingga tidak terdapat peru­bahan perundangan-undangan menurut pasal 1 ayat 2 K.U.H.P.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 24-11-1964 No. 144 K/Kr/1963.

Dalam Perkara : Tan Tjoan Kok; Tan Tjoan Eng; Tan Tjoan Hong.

12.        I.2. Perubahan dalam perundangan-undangan.

Keberatan yang diajukan dalam memori kasasi : – bahwa karena dengan berlakunya Perpu No. 8 tahun 1962, Rijstordonnantie 1948 tidak berlaku lagi, penuntut kasasi seharusnya dilepaskan dari tuduhan;

Tidak dapat dibenarkan, karena dalam hal ini tidaklah terjadi perubahan perundang-undangan dalam arti pasal 1 ayat 2 K.U.H.P.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 19-9-1964 No. K/Kr/1964.

Dalam Perkara : Oei Gwan Tjay.

13.        I.2. Perubahan dalam perundang-undangan.

Dengan dikeluarkannya P.P. No. 20/1963 norma-norma yang terkandung dalam prijsbeheerschingsordonnantie 1948 tidaklah berubah sehingga tidaklah terjadi perubahan perundang-undangan dalam arti pasal 1 ayat 2 K.U.H.P.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 1-9-1964 No. 114 K/Kr/1963.

Dalam Perkara : A. Riduan bin Haji Abdullah.

14.        I.4. Pengertian “pegawai negeri “

Pasal 92 K.U.H.P. tidak memberi penafsiran mengenai siapakah yang harus dianggap sebagai pegawai negeri, tetapi memperluas arti pegawai negeri sedangkan menurut pendapat Mahkamah Agung yang merupakan pegawai negeri ialah setiap orang yang diangkat oleh Penguasa yang dibebani dengan jabatan Umum untuk melaksanakan sebagian dari tugas Negara atau bagian-bagiannya;

i.c. terdakwa diangkat Menteri Keuangan RI. dalam jabatan Direktur Percetakan R.I. Yogyakarta.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 1-12-1962 No. 81 K/Kr/1962.

Dalam Perkara : R. Moetomo Notowidigdo.

15.        I.4. Istilah “kekuasaan negara”.

Menurut pasal 1 R.I.B., Kepolisian termasuk kekuasaan negara yang dimaksudkan dalam pasal 207 K.U.H.P.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 23-1-1956 No. 37 K/Kr/1956.

Dalam Perkara : Achmad Muhamad bin Yakub.

16.        I.4. Istilah “Inlands gebruiksrecht”.

Hak “grant” Sumatera Timur termasuk “Inlands gebruiksrecht” dalam pasal 385 K.U.H.P..

Putusan Mahkamah Agung tgl. 7-8-1956 No. 58 K/Kr/1953.

dengan Susunan Majelis : 1. Mr. Wirjono Prodjodikoro, 2. Mr. Sutan Kali Malikul Adil, 3. Mr. R. Soerjotjokro.

17.        I.4. Istilah “vervoermiddel” dalam pasal 9 R.O.

Berdasarkan pasal 9 Rechten Ordonantie Jawatan Bea dan Cukai berwenang untuk melakukan penyegelan atas kran pipa tersebut, karena pada hakekatnya pipa itu berfungsi memindahkan minyak dari satu tempat ketempat yang lain sehingga fungsinya dapat disamakan dengan alat pengangkut (vervoemiddel) seperti yang dimaksudkan dalam pasal 9 R.O. tersebut.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 31-12-1973 No. 35 K/Kr/1972.

Dalam Perkara : H.Y. Kalesaran; Djamalus.

dengan Susunan Majelis : 1. Prof. R. Subekti S.H., 2. D.H. Lumbanra­dja S.H., 3. S.H. Sri Widojati Wiratmo Soekito S.H.

18.        I.5. Berlakunya undang-undang.

Keberatan yang diajukan oleh penuntut-kasasi bahwa ia tidak tahu akan adanya undang-undang yang melarang membeli atau memperoleh uang perak, tidak dapat diterima, karena tiap-tiap orang dianggap mengetahui undang-undang setelah undang-undang itu diundangkan dalam Lembaran Negara.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 14-11-1961 No. 77 K/Kr/1961.

Dalam Perkara : M. Sabirin Biran.

19.        I.5. Berlakunya undang-undang.

Berdasarkan pasal 100 (2) Undang-undang Dasar Sementara R.I. pengundangan terjadi dalam bentuk menurut undang-undang adalah syarat tunggal untuk kekuatan mengikat, maka berlakunya undang-undang tidak tergantung dari hal apakah isi undang-undang itu sudah atau belum diketahui oleh yang bersangkutan.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 22-5-1955 No. 77/Kr/1953.

Dalam Perkara : Haji Iljas.

dengan Susunan Majelis : 1. Mr. R. Wirjono Prodjodikoro, 2. Mr. R. Soekardana, 3. R. Ranoe Atmadja.

20.        I.5. Hutang-piutang dan hukum pidana.

Sengketa tentang hutang-piutang merupakan sengketa perdata.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 11-3-1970 No. 93 K/Kr/1969.

Dalam Perkara : Abdul Gapoer.

dengan Susunan Majelis :1. Prof. R. Subekti S.H., 2. lndroharto S.H., 3. Z. Asikin Kusumah Atmadja S.H.

21.        I.5. Perkara pidana dan sengketa perdata.

Pertimbangan Pengadilan Tinggi yang dibenarkan Mahkamah Agung:

Karena perkara ini mengenai perselisihan tentang letaknya bagian masing­masing ahli waris atas tanah warisan, perkara ini merupakan sengketa perda­ta yang harus diselesaikan menurut acara perdata pula; maka perbuatan yang dituduhkan pada tertuduh bukan merupakan kejahatan ataupun pelanggaran dan karenanya mereka harus dilepaskan dari segala tuntutan hukum

Putusan Mahkamah Agung tgl. 14-7-1976 No. 110 K/Kr/1975.

Dalam Perkara : Sahat bin Dipokarto.

dengan Susunan Majelis : 1. Palti Radja Siregar S.H., 2. Purwosunu S.H., 3. Bustanul Arifin S.H.

22.        I.5.Amnesti dan abolisi

Keberatan yang diajukan penuntut kasasi : – bahwa karena penuntut kasasi dalam tahun 1961 telah melaporkan diri kepada Pemerintah sehing­ga kepadanya harus diterapkan keputusan Presiden rnengenai amnesti dan abolisi,

Tidak dapat dibenarkan: – karena menurut hasil pemeriksaan dia di­perkara dalam tahun 1958 dan diputus dalam tahun 1959, jadi sebelum adanya keputusan Presiden mengenai amnesti, sehingga hal tersebut tidak dapat diajukan sebagai alasan dalam pemeriksaan tingkat kasasi.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 29-4-1967 No. 122 K/Kr/1966.

Dalam Perkara : Ui Gem alias Ui Kem Siong.

Susunan Majelis :1. Surjadi S.H., 2. Subekti S.H., 3. M. Abdurrachman S.H.

.

.

.

TENTANG PIDANA

23.        II.1. Jenis pidana.

Menambah jenis hukuman yang ditetapkan dalam pasal 10 K.U.H.P. tidak dibenarkan.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 11-3-1970 No. 59 K/Kr/1969.

Dalam Perkara : N. Berman Bangun.

dengan Susunan Majelis : 1. Prof. R. Subekti S.H., 2. Prof. Sardjono S.H., 3. Indroharto S.H.

24.        II.1. Jenis pidana.

Pengadilan Negri sebagai Hakim Pidana tidak berwenang rnenjatuhkan putusan yang lain dari pada yang ditentukan dalam pasal 10 K.U.H.P. sepertinya putusan yang tersebut dalam dictum ke 3 yaitu :

“Menghukum lagi Tertuduh untuk rneninggalkan tanah/sawah terperkara naina Djum/sawah Laukeibo guna pakai oleh saksi Pengadu”.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 26-9-1970 No. 74 K/Kr/1969.

Dalam Perkara : Bangsa Ginting.

dengan Susunan Majelis : 1. Prof. R Subekti S.H., 2. Indroharto S.H., 3. Z. Asikin Kusumah Atmadja S.H.

25.        II.1. Jenis pidana.

Dalam menjatuhkan hukuman bersyarat, Hakim dapat menetapkan sebagai syarat bahwa terdakwa harus mengganti kerugian yang disebabkan karena tin­dak pidana yang telah dilakukannya.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 9-5-1963.

Dalam Perkara : Ie Dwan Tjio.

26.        II.1. Jenis pidana.

dalam perkara pidana Pengadilan tidak dapat menjatuhkan hukuman yang isinya : – Menghukum terdakwa untuk meninggalkan tanah terperkara.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 10-5-1972 No. 11 K/Kr/1971.

Dalam Perkara : Suwe Karo2; Djedamin Karo2;

dengan Susunan Majelis : 1. Prof. Sardjono S.H., 2. lndroharto S.H., 3. Sri Widoyati Wiratmo Sukito S.H.

27.        II.1. Jenis pidana.

Hukuman tambahan yang dijatuhkan oleh Pengadilan Negeri: “Menghukum atas tertuduh-tertuduh untuk meninggalkan hutan yang digarap guna dihijaukan kembali” dan “Menghukum lagi atas tertuduh-tertuduh untuk membayar kerugi­an Negara masing-masing besarnya 1/29 x Rp. 1.485.700,-” harus dibatalkan karena bertentangan dengan pasal 10 K.U.H.P.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 13-8-1974 No. 61 K/Kr/1973.

Dalam Perkara : Terima Pinem dkk (29 orang).

dengan Susunan Majelis : 1. Prof. Oemar Seno Adji S.H., 2. Hendrotomo S.H., 3. Busthanul Arifin S.H.

28.        II.1. Jenis pidana.

Hakim Pidana tidak berwemang menetapkan ganti rugi.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 6-6-1970 No. 54 K/Kr/1969.

Dalam Perkara : Selamet Sembiring.

dengan Susunan Majelis :1. Prof. Subekti S.H., 2. D.H.Lumbanradja S.H., 3. Z. Asikin Kusumah Atmadja S.H.

29.        II.1. Jenis pidana.

Hukuman percobaan hanya dapat diberikan dalam hal dijatuhkan hukuman penjara tidak lebih dari satu tahun.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 17-10-1970 No. 52 K/Kr/1970.

Dalam Perkara : Djai bin Murta.

dengan Susunan Majelis : 1. Prof. R. Subekti S.H., 2. Sri Widoyati Wiratmo Sukito S.H., 3. Busthanul Arifin S.H.

30.        II.1. Jenis pidana.

Keberatan yang diajukan oleh penuntut kasasi : – bahwa Pengadilan dengan ponis pidana menentukan siapa yang berhak atas tanah tersebut, sedang hal ini adalah wewenang Hakim Perdata; bahwa disini Hakirn Pidana telah keliru menafsirkan hukuman tambahan yang dimaksudkan oleh pasal 14 K.U.H.P.

Tidak dapat diterima, karena ketentuan yang dimaksudkan itu adalah bukan hukuman tambahan, tetapi hukuman bersyarat dengan syarat khusus Se­suai dengan pasal 14 c. K.U.H.P.

(Penuntut kasasi oleh Pengadilan Negeri dijatuhi hukuman bersyarat dengan syarat khusus : – tertuduh harus mengembalikan tanah tersebut kepada saksi);

Putusan Mahkamah Agung tgl. 25-2-1975 No. 66 K/Kr/1974.

Dalam Perkara : Ludin Gultom; Rudolf Sianturi.

dengan Susunan Majelis : 1. Hendrotomo S.H., 2. Purwosumu S.H., 3. Busthanul Arifin S.H.

31.        II.1. Jenis pidana.

Bahwa dalam Pen. Pres. No. 5 tahun 1959 tidak disebutkan hukum­an denda, tidaklah berarti bahwa penambahan hukuman badan dengan hukuman denda tidak diperkenankan lagi, karena Pen. Pres. tersebut hanya bermaksud mempertinggi ancaman hukuman badan bagi semua tindak pidana ekonomi yang menghalangi program Pemerintah.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 12-6-1964 No. 193 K/Kr/1964.

Dalam Perkara :1. Gouw Wie Goan, II. Jo Kiem Seng.

32.        II.1. Jenis pidana.
Dalam pasal 6 b Undang-undang Darurat No. 7/1955 dicantumkan dengan tegas bahwa hukuman dapat berupa hukuman penjara dan hukuman denda a­tau salah satu dari dua macam hukuman tersebut. (i.c. PengadilanTinggi men­jatuhkan hukuman penjara).

Putusan Mahkamah Agung tgl. 7-8-1971 No. 111 K/Kr/1970.

Dalam Perkara : Bachsan Kaharudin Lubis.

dengan Susunan Majelis :1. Prof. R. Subekti Si!., 2. Sri Widoyati Wiratino Sukito S.H., 3. Busthanul Arifin S.H.

33.        II.1. Jenis pidana.

Mobil yang dibeli oleh pemohon kasasi dengan sejumlah uang yang diterimanya sebagai hasil dari tindak pidana yang dipersalahkan padanya, dapat dikatakan diperoleh, meskipun secara tidak langsung, dari kejahatan sebagai ditentukan dalam pasal 39 K.U.H.P.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 13-11-1962 No. 125 K/Kr/1960.

Dalam Perkara : Mr. Lim Wam Too.

34.        II.3. Hukuman bersyarat.

Adalah tidak tepat bila lamanya terdakwa berada dalam tahanan turut diperhitungkan dalam hukuman bersyarat.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 23-12-1970 No. 148 K/Kr/1969.

Dalam Perkara : Soejatmo Winoto Bagoes Doekoeh.

dengan Susunan Majelis : 1. Prof. R. Subekti S.H., 2. D.H. Lumbanradja S.H., 3. Indroharto S.H.

35.        II.3. Pengurangan dengan masa tahanan

Pasal 32 dan 33 K.U.H.P. tidak mewajibkan, tetapi hanya mewenangkan Pengadilan yang menjatuhkan hukuman penjara kepada Terdakwa yang ditahan sementara untuk mengurangkan waktu tahanan sementara itu dari hukuman.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 13-12-1960 No. 48 K/Kr/1960.

Dalam Perkara : Tambatua Simbolon.

.

.

.

HAL-HAL YANG MENGHAPUSKAN, MERINGANKAN, MEMBERATKAN PIDANA

36.        III.1. Hal-hal yang menghapuskan pidana.

Kekhilafan terdakwa mengenai sifat melawan hukum dari pada perbuat­annya tidaklah menghilangkan pertanggungan jawab kepidanaannya.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 1-3-1958 No. 263 K/Kr/1957.

Dalam Perkara : Kristian alias Ompu Sitorpa Marga Siagian.

37.        III.1. Hal-hal yang menghapuskan pidana.

Perbuatan penuntut kasasi menembak mati si korban tidak dapat dianggap sebagai dilakukan demi pembelaan termaksud dalam pasal 49 K.U.H.P. karena menurut Mahkamah Agung tidak ada keseimbangan antara serangan yang dilakukan oleh si korban dengan perbuatan penuntut kasasi.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 9-2-1959 No. 193 K/Kr/1958.

Dalam Perkara : Haji Hasjim bin Haji Derahman.

38.        III.1. Hal-hal yang menghapuskan pidana.

Keberatan yang diajukan oleh penuntut kasasi : – bahwa pelanggaran itu (mengangkut penumpang lebih dari maximum) dikarenakan terpaksa dan terdorong oleh rasa pribadinya ya’ni ia setelah mengangkut penumpang maximum yang terdiri dan orang-orang biasa Ia membolehkan seorang anggota tentara naik, tentara mana toch tentara negerinya yang ia kenal bertugas di daerah itu dan tentara itu juga tidak dipungut bayaran.

Tidak dapat dibenarkan karena keberatan tersebut bukanlah dorongan yang bersandar pada “rasa pribadi penuntut kasasi” dan merupakan “paksaan” termaksud dalam pasal 48 K.U.H.P. sehingga perbuatan penuntut kasasi tetap merupakan tindak pidana.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 30-5-1961 No. 121 K/Kr/1960.

Dalam Perkara : Sae’oen bin Hoesen.

39. III.1. Hal-hal yang menghapuskan pidana.

Suatu perintah dari Ketua Pengadilan Negeri kepada Panitera mengenai hal yang terletak diluar lingkungan pekerjaannya sebagai panitera, bukanlah perintah yang dimaksudkan dalam pasal 51 K.U.H.P. dan bagaimanapun juga penuntut kasasi sebagai Panitera adalah satu-satunya yang bertanggung jawab atas penggunaan uang kas Pengadilan Negeri tersebut.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 7-7-1964 No. 166 K/Kr/1963.

Dalam Perkara : Boerhanoedin gelar Manah Soetan.

40.        III.1. Hal-hal yang menghapuskan pidana.

Perintah dari pimpinan R.M.S. kepada terdakwa tidak merupakan suatu perintah jabatan yang dimaksudkan oleh pasal 51 K.U.H.P. karena perintah menurut pasal ini harus diberikan oleh pembesar yang berwenang untuk itu.
Putusan Mahkamah Agung tgl. 9-2-1960 No. 181 K/Kr/1959.

Dalam Perkara : Marikin (Marthen) Lukulima.

41.        III.1. Hal-hal yang menghapuskan pidana.

Keberatan yang diajukan penuntut kasasi : – bahwa penuntut kasasi tidak merasa bersalah karena sebagai anggota Hansip ía hanya rnelakukan perintah dari Pamong Desa;

Tidak dapat dibenarkan karena perbuatan penganiayaan tidak tercakup dalam “perintah atasan”.

Dan keberatan yang diajukan penuntut kasasi: – bahwa sebagai Ka­mituwo ia berwenang memerintahkan untuk menjaga keamanan desa;

Tidak dapat diterima karena wewenang dan tanggung jawab Kamituwo tidaklah meliputi kewenangan melakukan perbuatan-perbuatan penganiayaan.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 27-1-1971 No. 63 K/Kr/1970.

Dalam Perkara : Moeslani dkk.

dengan susunan rnaielis : 1. Prof. R. Subekti S.H., 2. Busthanul Arifin S.H., 3. Sri Widoyati Wiratmo Sukito S.H.

42.        III.1. Hal-hal yang menghapuskan pidana.

Dalam “noodtoestand” harus dilihat adanya :

1.             Pertentangan antara dua kepentingan hukum.

2.             Pertentangan antara kepentingan hukum dan kewajiban.

3.             Pertentangan antara dua kewajiban hukum.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 27-7-1969 No. 117 K/Kr/1968.

Dalam Perkara : Soetopo dan Soetedjo.

dengan Susunan Majelis : 1. M. Abdurrachman S.H., 2. Prof. Sardjono S.­H., 3. D.H. Lumbanradja S.H.

43.        III.1. Hal-hal yang menghapuskan pidana.

Keberatan yang diajukan penuntut kasasi :

Bahwa tidak akan terjadi perbuatan pembacokan itu apabila saksi Ru’at tidak menyediakan diri untuk dicoba (dibacok);

Tidak dapat diterima, karena ikut bersalahnya orang lain dalam suatu tindak pidana tidak menyebabkan penuntut kasasi bebas dari kesalahan terhadap tindak pidana tersebut.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 8-1-1975 No. 105 K/Kr/1975.

Dalam Perkara : Hadji Umar Said bin Rodiwongso.

dengan Susunan Majelis : 1. Prof. Umar Seno Adji S.H., 2. D.H. Lumban­radja S.H., 3. Hendrotomo S.H.

44.        III.1. Hal-hal yang menghapuskan pidana.

Pembunuhan yang dilakukan untuk memenuhi hukum adat tidak merupakan hal yang membebaskan seperti yang dimaksud dalam pasal 50 K.U.H.P.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 3-11-1971 No. 20 K/Kr/1970.

Dalam Perkara : Masidin bin Sumpai.

dengan Susunan Majelis : 1. Prof. R. Subekti S.H., 2. D.H. Lumbanradja S.H., 3. Z. Asiskin Kusumah Atmadja.

45.        III.1. Hal-hal yang menghapuskan pidana.

Kesanggupan penuntut kasasi untuk membayar kembali uang yang dimaksudkan itu tidak menghilangkan sifat dapat dihukum perbuatan yang telah dilakukannya.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 19-5-1959 No. 47 K/Kr/1959.

Dalam Perkara : R. Singgih Prawirojudho.

46.        III.1.Hal-hal yang menghapuskan pidana.

Penyelesaian sengketa rnengenai tanah yang bersangkutan pada tanggal 17 Januari 1957 tidak meniadakan tindak pidana yang dilakukan para tertuduh pada bulan April 1956 dan yang telah diadili pada tanggal 18 Desember 1956.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 8-12-1956 No. 178 K/Kr/1956.

Dalam Perkara : Kartodimedjo dkk.

47.        III.1. Hal-hal yang menghapuskan pidana.

Pertimbangan Pengadilan Tinggi yang dibenarkan Mahkamah Agung :

Bahwa tentang keadaan darurat (noodtoestand) pada umumnya dapat disimpulkan bahwa ía adalah keadaan yang merupakan salah satu bentuk dari pada “overmacht” yang umumnya didapati dalam salah satu bentuk kejadi­an seperti berikut

1.      Dalam hal adanya pertentangan antara dua kepentingan hukum (bij bot­sing van wee rechtsbelangen).

2.      Dalam hal adanya pertentangan antara kepentingan hukum dan kewajiban hukum (bij botsing van een rechtsbelang en een rechtsplicht).

3.      Dalam hal adanya pertentangan antara dua kewajiban hukum (bij botsing van twee rechtsplichten).

Bahwa dalam perkara ini Pengadilan Tinggi tidak rnelihat adanya cukup alasan untuk memasukkan perbuatan terdakwa II dalam salah satu bentuk keadaan darurat tersebut, sedangkan rnengenai terdakwa I dapat disimpulkan bahwa terdapat petunjuk bahwa terdakwa I tidak semata-rnata bertindak karena “perin­tah jabatan” yang diberikan oleh terdakwa II kepadanya, tetapi selain itu telah ada persetujuan antara keduanya untuk melakukan perbuatan tersebut;

Bahwa oleh karena itu putusan Pengadilan Negeri mengenai terdakwa I dan II (yang telah melepaskan terdakwa I dan II dan segala tuntutan karena adanya “perintah jabatan” dan “overmacht”) harus dibatalkan.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 20-9-1967 No. 30 K/Kr/1967.

Dalam Perkara : 1. Sutomo bin Hadi Kusumo, 2. D. Suseno.

dengan Susunan Majelis : 1. Surjadi S.H., 2. Subekti S.H., 3. M. Abdurrachman S.H.

48.        III.1. Hal-hal yang menghapuskan pidana.

Keberatan yang diajukan penuntut kasasi: – bahwa ia menggunakan pistolnya itu karena dalam kebingungan berhubung kena lemparan batu; lagi pula bila ia dalam keadaan sadar tak mungkin ia hanya mengenai pinggang korban ……….;

Tidak dapat dibenarkan karena hal itu tidak akan dapat merupakan alasan yang menghilangkan sifat daripada tindak pidana yang bersangkutan; (penuntut kasasi dipersalahkan atas kejahatan: “penganiayaan”).

Putusan Mahkamah Agung tgl. 4-10-1967 No. 77 K/Kr/1965.

Dalam Perkara : Malim Kesuh Karo Karo.

dengan Susunan Majelis :1. Surjadi S.H., 2. Subekti S.H., 3. M. Abdurrachman S.H.

49.        III.2. Hal-hal yang meringankan pidana.

Menurut pasal 45 K.U.H.P. Hakim dapat menjatuhkan hukuman kepada anak yang belum berumur 16 tahun yang melakukan suatu tindak pidana.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 25-2-1958 No. 324 K/Kr/1957.

Dalam Perkara : Kondrat Nadeak.

.
.
.

UNSUR-UNSUR TINDAK PIDANA

50.        IV.1.2.  Kealpaan – Kesengajaan.

Pasal 56 K.U.H.P. mensyaratkan bahwa harus ada kesengajaan untuk membantu delik yang dituduhkan, sedangkan kesimpulan bahwa tertuduh harus menduga atau mencurigai bahwa barang itu akan dikeluarkan dari daerah pabean Indonesia; bersangkutan lebih dengan bentuk culpa dari pada dengan bentuk dolus.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 25-1-1975 No. 25 K/Kr/1974.

Dalam Perkara : Drs. Hadisapoetro.

dengan Susunan Majelis : 1. Prof. Oemar Seno Adji,S.H., 2. Kabul Arifin S.H., 3. Busthanul Arifin S.H.

51.        IV.2. Kesengajaan.

Seseorang yang menggunakan senjata tajam terhadap orang lain untuk membuktikan apakah orang itu benar tidak mempan senjata tajam harus da­pat mempertimbangkan (voorzien) bahwa kemungkinan besar orang itu sebagai manusia biasa benar-benar akan terluka, sehingga ia harus dianggap mempunyai niat (oogmerk) untuk melukai orang tersebut.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 8-1-1975 No. 105 K/Kr/1975.

Dalam Perkara : Hadji Umar Said bin Rudiwongso.

dengan Susunan Majelis : 1. Prof. Umar Seno Adji S.H., 2. D.H. Lumbanradja S.H., 3. Hendrotomo S.H.

52.        IV.2. Kesengajaan.

“Lalai tidak menyelidiki lebih dulu” daftar yang akan ditanda tangani dalam perkara ini tidak merupakan kesengajaan, sedang kesengajaan itu me­rupakan unsur utama dari pidana penggelapan

Putusan Mahkamah Agung tgl. 4-2-1976 No. 58 K/Kr/1974

Dalam Perkara : Suprapto BA.

dengan Susunan Majelis :1. Hendrotomo S.H., 2. Palti Radja Siregar S.H., 3. Busthanul Arifin S.H.,

53.        IV.3. Melawan hukum.

Dalam setiap tindak pidana selalu ada unsur “sifat melawan hukum” dari perbuatan yang dituduhkan walaupun dalam rumusan delik tidak selalu dicantumkan.

Walaupun rumusan delik penadahan tidak mencantumkan unsur sifat melawan hukum, tetapi ini tidak berarti bahwa perbuatan yang dituduhkan telah merupakan delik penadahan sekalipun sifat melawan hukum tidak ada sama sekali.
Putusan Mahkamah Agung tgl. 6-6-1970 No. 30 K/Kr/1969.

Dalam Perkara : Mohamad Mursjid bin Dasu dan Mohamad Sjarif bin Ha­ji Kehan.

dengan Susunan Majelis : 1. Prof. R. Subekti S.H., 2. Prof. Sardjono S.H., 3. Busthanul Arifin S.H.

54.        IV.3. Melawan hukum

Meskipun yang dituduhkan adalah suatu delik formil, namun Hakim secara rnaterieel harus memperhatikan juga keadaan dari terdakwa atas dasar mana ía tak dapat dihukum (materieele wederrechtelijkheid).

Putusan Mahkamah Agung tgl. 27-5-1972 No. 72 K/Kr/1970.

Dalam Perkara : Mohamad Toha Iljas dan Wilson Hutauruk.

dengan Susunan Majelis : 1. Prof. R.Sardjono S.H., 2. Busthanul Arifin S.H., 3. Z. Asikin Kusumah Atmadja S.H.

55.        IV.3. Melawan hukum.

Pada umumnya suatu tindakan dapat hilang sifatnya sebagai melawan hukum selain berdasarkan suatu ketentuan perundang-undangan juga berdasarkan azas-azas hukum yang tidak tertulis dan bersifat umum; sepertinya dalam perkara ini faktor negara tidak dirugikan, kepentingan umum dilayani dan terdakwa sendiri tidak mendapat untung.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 8-1-1966 No. 42 K/Kr/1965.

Dalam Perkara : Macroes Effendi.

dengan Susunan Majelis : 1. Dr. Wirjono Prodjodikoro S.H., 2. Prof. R. Subekti S.H., 3. Surjadi S.H.

56.        IV.3. Melawan hukum.

Pertimbangan Pengadilan Tinggi yang dibenarkan Mahkamah Agung :

Bahwa mungkin saja Pemerintah dalam rnelakukan kebijaksanaan ekonomi­nya mengambil keputusan rnenciptakan suatu sistim semacarn deterred pay­ment (khusus) akan tetapi secara hukum (pidana) yang bertanggung jawab mengenai hal-hal itu adalah tetap pihak yang secara materiil telah melakukan tindakan-tindakan tersebut, in casu terdakwa.
Putusan Mahkamah Agung tgl. No. 15 K/Kr/l967.

Dalam Perkara : Teuku Jusuf Muda Dalam.

dengan Susunan Majelis :1. Surjadi S.H., 2. Subekti S.H., 3. M. Abdurrachman S.H.

57.        IV.4. Kesalahan.

Keberatan yang diajukan pemohon kasasi: bahwa ketidak hati-hatian saksi I sangat relevant atas terjadinya kecelakaan ini;

Tidak dapat diterima karena kesalahan pihak lain tidak berarti menghi­langkan kesalahan terdakwa.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 19-5-1976 No. 54 K/Kr/1975.

Dalam Perkara : Idris Gelar Sidi Maradjo.

dengan Susunan Majelis : 1. Purwosunu S.H., 2. Kabul Arifin S.H., 3. Hendrotomo S.H.

.

.

.

PERCOBAAN, PENYERTAAN, CONCURSUS

58.        V.1. Percobaan.

Pertimbangan Pengadilan Tinggi yang dibenarkan Mahkamah Agung :

Bahwa ternyata merica putih, merica hitam,. karet sheet dan kopi Arabica tersebut masih ada dalam gudang P.T. Megah di Jalan Sekip no.9 A Medan; diantaranya telah dimasukkan kedalam goni bercampur dengan kopi Ro­busta;

Bahwa dengan demikian, walaupun tertuduh-tertuduh telah membuat surat instruksi kepada P.T. Lampong Veem untuk rnengangkut kopi Robusta sesuai dengan izin ekspor code B.no. 12147, perbuatan tertuduh-tertuduh baru berupa suatu perbuatan pendahuluan (voorbereidingshandeling) dari percobaan mengekspor keluar Indonesia.

(Menurut Jaksa Agung, dengan sudah adanya “shipping instruction”, meskipun belum ada penyerahan dokumen-dokurnen kepada pabean, perbuatan tertuduh-tertuduh sudah merupakan permulaan pelaksanaan (“begin van uitvoering”).

Putusan Mahkamah Agung tgl. 31-1-1968 No. 14 K/Kr/1967.

Dalam Perkara : 1. Merhat Tarigan, 2. Lie Wie Giok, 3. Kho A Tjong dkk.

dengan Susunan Majelis : 1. Surjadi S.H., 2. Subekti S.H., 3. M. Abdurrachman S.H.

59.        V.2 Penyertaan.

Keberatan yang diajukan penuntut kasasi : – bahwa dalam perkara ini pelaku utamanya tidak diadili;

Tidak dapat diterima, karena untuk memeriksa perkara terdakwa Penga­dilan tidak perlu rnenunggu diajukannya terlebih dahulu pelaku utama dalam perkara itu.

(i.c. Terdakwa dipersalahkan atas kejahatan “Sebagai Pegawai Negeri turut serta membujuk orang lain melakukan penggelapan dalam jabatan”)
Putusan Mahkamah Agung tgl. 22-11-1969 No. 7 K/Kr/1969.
Dalam Perkara : 1. Robinson Pinem, 2. Dj. Damanik, 3. Pangulu Siahaan.

dengan Susunan Majelis : 1. Prof. R. Subekti S.H., 2. Prof. SardjonoS.H., 3. Z.A. Kusumah Atmadja S.H.

60.        V.2. Penyertaan.

Perbuatan terdakwa II mengancam dengan pistol tidak memenuhi semua unsur dalam pasal 339 K.U.H.P. terdakwa I lah yang memukul si korban dengan sepotong besi yang mengakibatkan rneninggalnya si korban.

Karena itu untuk terdakwa II kwalifikasi yang tepat adalah turut mela­kukan tindak pidana (medeplegen) sedangkan pembuat materiilnya ialah terdak­wa I.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 26-6-1971 No. 15/K/Kr/1970.

Dalam Perkara : Uding alias Saeful Bachri bin Haji Nuria.

dengan Susunan Majelis : 1. Prof. R. Sardjono S.H., 2. Indroharto S.H., 3. Asikin Kusumah Atmadja S.H.

61.        V.2. Penyertaan.

Keberatan yang diajukan dalam memori kasasi : – bahwa kesalahan penuntut kasasi tidak terbukti karena kawan pelaku pencuri telah meninggal dunia sehingga penuntut kasasi tidak dapat dinyatakan sebagai “medepleger” dari orang mati;

Tidak dapat dibenarkan, karena soal apakah terdakwa bersama orang lain melakukan tindak pidana yang dituduhkan, harus disandarkan pada saat tindak pidana itu dilakukan dan apakah hal termaksud di sidang dapat dibuk­tikan; bahwa kawan pesertanya kemudian meninggal dunia tidak mempengaruhi hal tersebut.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 12-5-1959 No. 52 K/Kr/l959.

Dalam Perkara : Setoe alias Sosetoe.

62.        V.2. Penyertaan.

Menyuruh melakukan (doen plegen)” suatu tindak pidana, menurut ilmu hukum pidana syaratnya adalah, bahwa orang yang disuruh itu menurut hukum pidana tidak dapat dipertanggung jawabkan terhadap perbuatannya sehingga oleh karenanya tidak dapat dihukum.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 1-12-1956 No. 137 K/Kr/1956.

Dalam Perkara : Djohan marga Ginting Munthe; Anwar.

63.        V.2  Penyertaan.

Pertimbangan Pengadilan Tinggi yang dibenarkan Mahkamah Agung :

Untuk tertuduh IV sebutan “memalsukan surat” lebih tepat diganti dengan istilah “memancing pembuatan surat palsu” karena karya tertuduh IV dalam perkara ini ialah memberi keterangan-keterangan atau bahan kepada tertuduh-tertuduh lainnya untuk membuat surat palsu tersebut.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 11-9-1968 No. 114 K/Kr/1967.

Dalam Perkara : 1. Sinaga Siregar, 2. Partoanan Harahap, 3. Sjafwi Da­tuk Penghulu Hakim, 4. Go Jouw Chong.

dengan Susunan Majelis : 1. M. Abdurrachman S.H.; 2. Sardjono S.H., 3. Busthanul Arifin S.H.

64.        V.4. Gabungan tindak-tindak pidana.

Dalam hal gabungan tindak pidana mengenai beberapa pelanggaran yang dilakukan oleh seorang terdakwa dan diadili sekaligus, menurut pasal 70 K.U.­H.P. untuk tiap pelanggaran harus diberi hukuman tersendiri.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 11-1-1960 No. 26 K/Kr/1958.

Dalam Perkara : Achmad Tohir.

65.        V.4. Gabungan pelanggaran dan kejahatan.

Dalam hal ada gabungan pelanggaran dan kejahatan maka untuk tiap pelanggaran dijatuhkan hukuman dengan tidak dikurangi.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 29-5-1962 No. 178 K/Kr/1962.

Dalam Perkara : Liem Swan Than.

66.        V.4. Perbuatan lanjutan.

Penghinaan-penghinaan ringan yang dilakukan terhadap 5 orang pada hari-hari yang berlainan tidak mungkin berdasar satu keputusan kehendak (wilsbesluit), maka tidak dapat dipandang sebagai satu perbuatan dan tidak dapat atas kesemua perkaranya diberikan satu putusan.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 5-3-1963 No. 162 K/Kr/1962.

Dalam Perkara : Ny. Etty Achmad Sanubari.

67.        V.4. Perbuatan Ianjutan.

Soal perbuatan lanjutan(”voortgezette handeling”) hanya mengenai soal penjatuhan hukuman (straftoemeting) dan tidak mengenai pembebasan dari tuntutan;

Maka keberatan yang diajukan penuntut kasasi, bahwa perbuatan yang dituduhkan kepadanya Dalam Perkara ini (perkara tanah G.G. di desa Sedati) merupakan suatu perbuatan lanjutan (“voortgezette handeling”) dengan perbuatannya dalam perkara tanah G.G. di desa Tambak Cemadi, sedang untuk itu ia telah dijatuhi hukuman oleh Pengadilan Negeri Sidoardjo tanggal 6 Maret 1962, tidak dapat dibenarkan.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 28-4-1964 No. 156 K/Kr/1963.

Dalam Perkara : M. Supardiman.

68.        V.4. Omissie-delict.

Perbuatan yang dituduhkan pada penuntut kasasi, ialah tidak melaporkan pendirian perusahaan kepada Jawatan Perburuhan, merupakan suatu omissie-delict yang berlaku terus menerus dan dapat dituntut setiap waktu, sedang daluwarsa hanya bisa terjadi setelah ia berhenti sebagai Notaris.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 24-8-1965 No. 173 K/Kr/1963.

Dalam Perkara : Anwar Mahajudin.

69.        V.4. Delik aduan.

Keberatan yang diajukan pemohon kasasi bahwa perkara ini termasuk “delik aduan yang absolut” maka harus ada pengaduan dari yang terhina dan dalam surat pengaduan harus ada kata-kata permintaan agar peristiwa itu di­tuntut.

Tidak dapat diterima, karena klachtdelict tidak terikat pada bentuk yang tertentu (vormvrij).

Putusan Mahkamah Agung tgl. 3-2-1972 No. 76 K/Kr/1969.

Dalam Perkara :1. Baharmin Harefa, 2. Muhamad Nasir Hidayat Harefa.,

dengan Susunan Majelis : 1. Prof. Soebekti S.H., 2. Sri Widojati Soekito S.H., 3. Z.A. Kusumah Atmadja S.H.

70.        V.4. Tempo mengajukan delik aduan.

Dalam delik aduan, tempo yang dimaksud dalam pasal 74 ayat 1 K.U.H.P. dihitung sejak yang berhak mengadu mengetahui perbuatan yang dilakukan, bukan sejak ía mengetahui benar /tidaknya perbuatan yang dilakukan.
Putusan Mahkamah Agung tgl. 15-2-1969 No. 57 K/Kr/1968.

Dalam Perkara : Kang Lip Tang.

dengan Susunan Majelis : 1. M. Abdurrachman S.H., 2. Prof. R.Sardjono S.H., 3. Z. Asikin Kusumah Atmadja S.H.

.

.

.

HAPUSNYA KEWENANGAN MENUNTUT DAN MENJALANKAN PIDANA

71.        VI.1. Gugurnya hak untuk menuntut hukuman.

Karena ternyata tertuduh/penuntut kasasi telah meninggal dunia, oleh Mahkamah Agung diputuskan Menyatakan gugur hak tuntutan hukum terhadap perbuatan-perbuatan yang dituduhkan penuntut kasasi.
Putusan Mahkamah Agung tgl. 30 – 9 -1975 No. 18 K/Kr/1975.

Dalam Perkara :1. Thomas Lamadlauw, II. Bos Katili. III. Junus Hamid. dkk.
Dengan Susunan Majelis : 1. Purwosunu S.H., 2. Kabul Arifin S.H., 3. Pal­ti Radja Siregar S.H.

72.        VI.1. Hapusnya kewenangan penuntutan pidana.

Menurut pasal 78 ayat 1 sub 2 K.U.H.P., perkara “penghinaan ringan” adalah suatu kejahatan dan dengan demikian baru kedaluwarsa setelah lewat waktu enam tahun.
Putusan Mahkamah Agung tgl. 1-2-1958 No. 269 K/Kr/1957.

Dalam Perkara : Soetomo.

73.        VI.1. Hapusnya kewenangan penuntutan pidana.

Keberatan yang dajukan penuntut kasasi bahwa Pengadilan Tinggi tidak mempertimbangkan bahwa penuntut kasasi dengan saksi telah mengadakan perdamaian dengan jalan mengganti kerugian saksi, dan setelah perdamaian saksi tidak lagi menuntut penuntut kasasi;

Tidak dapat diterima, karena perdamaian tidak dapat menghapuskan penuntutan atas suatu perkara dan delik ini bukan delik aduan sehingga pengaduan dari saksi tidak diperlukan.
Putusan Mahkamah Agung tgl. 20-9-1972 No. 97 K/Kr/1971.
Dalam Perkara : Riduan Dalimunthe.

Dengan Susunan Majelis :1. Prof. Sardjono S.H., 2. Busthanul Arifin S.H., 3. Sri Widojati Wiratmo Soekito S.H.

74.        VI.1. Hapusnya kewenangan penuntutan pidana.

Karena hak untuk menuntut hukuman gugur, permohonan kasasi yang diajukan oleh Jaksa yang tertuduhnya meninggal dunia, harus dinyatakan tidak dapat diterima.
Putusan Mahkamah Agung tgl. 19-11-1974 No. 29 K/Kr/1974.

Dalam Perkara : Tengku Muhamad Ali Pijeng.

dengan Susunan Majelis : 1. Prof. Oemar Seno Adji A.H., 2. Palti Radja Siregar S.H., 3. Busthanul Arifin S.H.

.

.

.

TINDAK PIDANA TERHADAP NEGARA

75.        VII.5. Tindak pidana terhadap Kepala Negara.

Keberatan yang diajukan penuntut kasasi: – bahwa fakta “dimuka umum” tidak terdapat dalam perkara ini.

Tidak dapat dibenarkan : – karena pernyataan seperti halnya Dalam Perkara ini, tidak perlu dinyatakan dirnuka umum.

(penuntut kasasi telah dipersalahkan atas kejahatan : – “Penghinaan dengan sengaja terhadap Presiden”).

Putusan Mahkamah Agung tgl. 28-12-1965 No. 26 K/Kr/1965.

Dalam Perkara : Tupak.

dengan Susunan Majelis : 1. Dr. Wirjono Prodjodikoro S.H., 2. Sutan Abdul Hakim S.H., 3. M. Abdurrachman S.H.

.

.

.

TINDAK PIDANA YANG MEMBAHAYAKAN KETERTIBAN UMUM

76.        VIII.3. Tindakan-tindakan yang membahayakan jiwa orang.
Pertimbangan Pengadilan Tinggi yang dibenarkan Mahkamah Agung

“Openlijk” dalam naskah asli pasal 170 Wetboek van Strafrecht lebih tepat diterjemahkan “secara terang-terangan”, istilah mana mempunyai arti yang berlainan dengan “openbaar” atau “dimuka umum”.

“Secara terangan-terangan” berarti tidak secara bersembunyi jadi tidak perlu “dimuka umum”, cukup apabila tidak diperdulikan apa ada kemungkinan orang lain dapat rnelihatnya.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 17-3-1976 No. 10 K/Kr/1975.

Dalam Perkara : 1. Fausi bin Abdullah; 2. Achmad Rozali; 3. Idris bin Ismail; 4. Ansoti bin Abd. Rachman.

dengan Susunan Majelis 1. Hendrotomo S.H., 2. Purwosunu SH., 3. Palti Radja Siregar S.H.

77.        VIII .9. Penghinaan terhadap suatu golongan penduduk Indonesia.

Keberatan yang diajukan dalam memori kasasi; – bahwa ia tidak dapat dipersalahkan atas pasal 156 K.U.H.P. karena para guru sekolah Pesantren dan para anggauta pengurus langgar di kampung Kepugeran tidak merupakan “groep van bevolking”.

Tidak dapat dibenarkan karena para guru dan pangurus langgar tersebut adalah penganut Agama Islam semuanya, yang dapat dikatakan merupakan suatu golongan penduduk berdasar atas Agama yang dipeluknya.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 20-11-1962 No. 86 K/Kr/1962.

Dalam Perkara : Subrata sebenarnya Sastrasubrata bin Sumarta.

78.        VIII.9. Penghinaan terhadap suatu golongan penduduk.

Mengingat Golkar telah diberikan hak-hak dan kewajiban-kewajiban ter­tentu oleh Undang-undang Pemilihan Umum dan Peraturan-peraturan pelaksanaan­nya, Golkar bergerak dalam kehidupan ketata negaraan kita, sehingga dapatlah Golkar disamakan dengan golongan penduduk dalam arti pasal 156 K.U.H.P.

Putusan Mahkamah Agung tgl. 17-10-1973 No. 99 K/Kr/1971.

Dalam Perkara : Subli bin Haji Dardjat.

dengan susunan majeIis: 1. Prof. Subekti S.H., 2. Busthanul Arifin S.H., 3. Indroharto S.H.

79.        VIII.9. Pawai tanpa izin.

Berlakunya pasal 510 K.U.H.P. tidak tergantung pada keadaan Staat van Oorlog en Beleg:

Untuk mengadakan pawai di jalan umum diperlukan izin dari yang ber­wajib dan tidak cukup dengan pemberitahuan saja kepada Polisi.
Putusan Mahkamah Agung tgl. 25-1-1957 No. 73 K/Kr/1956.

Dalam Perkara :        Soenarno.

.

.

.

TINDAK PIDANA TERHADAP ALAT NEGARA/PENGUASA

80.        IX.1. Penyuapan.

Tidaklah menjadl persoalan apakah niat penuntut kasasi tercapai atau tidak akan tetapi cukuplah bahwa penuntut kasasi bermaksud dengan pemberiannya memperoleh pelayanan yang berlawanan dengan kewajiban saksi Se­bagai pegawai negeri.

Lagi pula pemberian itu tidak perlu diadakan diwaktu pegawai yang bersangkutan melakukan dinasnya, melainkan dapat juga diadakan di rumah sebagai kenalan.
Putusan Mahkamah Agung tgl. 3-8-1963 No. 39 K/Kr/1963.

Dalam Perkara : Ting An Bing.

Dikutip dari http://www.indolawcenter.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s