Megalomania Dalam Kepemimpinan


Pemimpin adalah seseorang yang dijadikan panutan oleh orang-orang yang dipimpin, sebagai penentu nasib kelompok yang dipimpin dan mengarahkan pada cita-cita bersama yang telah diharapkan. Kekuasaan adalah amanah yang diemban oleh seorang pemimpin untuk mewujudkan secara bersama-sama atas kesejahteraan dan kebaikan yang telah dijadikan tujuan. Jika kepemimpinan tidak diisi oleh seseorang yang sehat secara psikologis, maka yang terjadi adalah suatu bentuk pemerintahan yang dipimpin dengan “kegilaan” sebagai landasan pengambilan keputusan dan pemerintahan yang berlandasakan pada kegilaan hanya akan menuju pada petaka bagi yang diperintah, karena keputusan yang diambil untuk bertindak dan menjalankan roda pemerintahan tidak akan tepat guna dengan kenyataan dan keadaan.

Banyak yang mengatakan megalomania merupakan ciri yang terkadang tampak pada seorang pemimpin, penyebabnya mungkin dikarenakan para pemimpin yang dekat dengan kekuasaan, kemuliaan dan kekayaan. Disertai kecenderungan manusia yang memiliki kebutuhan untuk berprestasi disamping kebutuhannya yang lain, mendorong untuk meraih segala macam “kebaikan” sebanyak mungkin, setelah disuburkan dengan perasaan tidak pernah puas yang tidak mampu untuk dikendalikan, maka akan membawa kepada arah patologis jika dituruti tanpa pertimbangan dan kemampuan mengendalikan diri yang baik. Dibantu dengan kesempatan yang menggoda, serta ditopang oleh posisi sebagai pemimpin yang mana pada posisi tersebut seseorang pastilah memiliki pengaruh secara sosial-politik terhadap orang-orang yang dipimpinnya. Maka seluruh hal tersebut akan sangat membantu merubah suatu pribadi untuk menjadi seseorang yang memiliki ambisi besar yang bersifat berlebihan, yang kemudian jika dibiarkan maka secara perlahan akan mengarah pada irasionalitas sebagai perwujudan dari obsesi akan keberhasilan diri yang belum tercapai dan didorong dengan harapan dan kepercayaan diri yang terlalu tinggi untuk mencapainya, maka keadaan ini biasa disebut dengan megalomania atau waham kebesaran.

Secara harfiah megalomania sendiri berasal dari bahasa yunani yang terdiri dari dua suku kata yaitu Megalo yang berarti sangat besar, termasyur, atau berlebih-lebihan, dan Mania yang berarti bentuk obsesi yang berlebihan terhadap sesuatu, dimana ketika digabungkan maka akan diartikan sebagai bentuk obsesi berlebihan yang mendorong seseorang pada kebutuhan akan keasyikan tertentu terhadap sesuatu yang bersifat irasional, bentuk irasional tersebut terkadang adalah perasaan kemuliaan dan kebesaran yang berlebih-lebihan atas diri sendiri. Megalomania merupakan bentuk manifestasi keadaan patologis dimana seseorang memiliki suatu bentuk fantasi terhadap kekuatan, kekayaan dan “kemaha-besaran” didalam dirinya, hal ini terkadang disebabkan oleh obsesi mereka akan kebesaran dan kemuliaan, baik itu secara pemikiran atau perbuatan, yang tidak tercapai.

Para penderita waham kebesaran akan tetap mempertahankan keyakinan tersebut walau telah terbukti bertolak belakang dengan kenyataan sekalipun, dengan tujuan memenuhi hasrat obsesi mereka dalam bentuk fantasi, namun sangat berlebihan.  Pada taraf kritis megalomania dapat membahayakan penderitanya dikarenakan keyakinan dirinya untuk mampu melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh manusia normal, seperti mampu terbang dari gedung bertingkat atau bahkan dapat menghentikan kereta api yang sedang melaju kencang hanya dengan menggunakan satu tangan saja.

Jenis perilaku tersebut, menurut Sigmund Freud, adalah hasil dari sebuah narsisisme kedua yang muncul pada seseorang yang mengidap penyakit mental, yang dibedakan olehnya dari narsisisme utama yang biasa muncul pada bentuk narsistis kebanyakan, narsistis ini bersifat patologis karena mengarahkan pada skizofrenia, dengan jalan mendorong harapan dan impian dari belakang libido sehingga terpisah dari obyeknya didunia nyata dan pada akhirnya menghasilkan megalomania. Narsisisme kedua yang ada pada bentuk penyakit mental menurut Freud berbentuk membesar-besarkan diri sendiri yang merupakan hasil dari manifestasi ekstrem dari narsisisme utama yang biasa terdapat dalam diri setiap individu.

Dari teori Freud yang tertulis diatas maka dapat diketahui bahwa akar dari megalomania adalah narsistik yang sakit, dimana penderitanya emmeiliki keyakinan diri yang dibesar-besarkan, berbentuk waham dan diyakini secara absolut. Sikap tidak mau menerima kritik walau salah sekalipun, dan tetap percaya terhadap apa yang sebenarnya telah terbukti salah merupakan sifat dari kepribadian megalomania. Hal ini terjadi karena keyakinan yang menganggap diri maha sempurna dan tidak mungkin melakukan kesalahan. Walau kecenderungan irasionalitas merupakan kenyataan, namun jika keadaan ini dimiliki oleh seseorang yang memiliki pengaruh dalam sosial-politik maka akan menimbulkan masalah yang besar.

Irasionalitas jika digunakan sebagai landasan untuk bertindak maka tidak akan mewujudkan cita-cita yang telah ditetapkan dan diharapkan. Keputusan yang baik didapat dari suatu proses berpikir yang baik pula, dilandasi oleh akal sehat dan memiliki tujuan yang jelas serta terarah dengan kebaikan dan kesejahteraan untuk setiap anggota yang berada dibawah kepemimpinan yang selalu menjadi prioritas utama. Lain halnya dengan bentuk pemerintahan yang dilandasi oleh keputusan megalomania yang ditetapkan oleh pemimpin yang sakit, hal tersebut akan mengarahkan roda pemerintahan pada arah kehancuran, karena landasan yang digunakan adalah murni berupa irasionalitas, bertujuan hanya untuk memenuhi hasrat kebesaran yang dimiliki oleh sang pemimpin megalomania, tidak berpihak kepada yang diperintah, atau bahkan tidak berdasar pada kenyataan sama sekali.

Walau megalomania tidak menutup kemungkinan untuk diderita oleh orang-orang yang jauh dari kekuasaan, namun dalam tulisan ini yang mentitik-beratkan gangguan megalomania pada sosok seorang pemimpin merujuk kepada kecenderungan-kecenderungan yang biasa ada pada diri seorang pemimpin, mulai dari ketidak-relaan sesiapapun untuk kehilangan jabatan tertinggi dalam suatu kelompok (negara atau perusahaan) hingga cara mempertahankan posisi tersebut yang dijadikan prioritas utama. Perilaku hanya mementingkan diri tersebut berarti sudah menyimpang jauh dari cita-cita awal yang telah ditetapkan, sehingga tujuan tidak tercapai dan terbengkalai ditengah jalan. Kecelakaan ini disebabkan karena kepemimpinan dipegang oleh seseorang yang salah, seseorang yang lebih mementingkan kemuliaan, kebesaran dan kekayaan diri pribadi dibandingkan dengan tujuan bersama yang telah diamanahkan.

Sumber:
http://www.wisegeek.com/what-are-delusions-of-grandeur.htm
http://en.wikipedia.org/wiki/Megalomania
http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/03/17/10361413/Caleg.Narsis..Omzet.Spanduk.Rp100.Juta.Sehari
http://202.146.4.17/read/xml/2009/02/14/10423162/politik.onani.politisi.narsis.

Dikutip dari http://ruangpsikologi.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s