Nasabah Terbunuh Tanggung Jawab Citibank


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Praktisi Hukum Frans Hendra Winata mengatakan Citibank harus bertanggungjawab atas kasus pembunuhan nasabahnya Irzen Octa yang dilakukan karyawannya dan karyawan perusahaan outsourching penagih hutang (debt collector).

“Pihak Citibank tidak bisa berkelit bahwa itu menjadi tanggung jawab pelaku saja. Dalam pasal 1792 hukum perdata yang berbunyi, barang siapa memberikan kuasa pada orang lain dia penanggungjawab akhir. Pihak Citibank tidak bisa tidak bertanggung jawab,” ujar Frans di Jakarta, Minggu (3/4/2011).

Frans mengatakan segala konsekuensi dan tanggung jawab ada di pihak bank. Kalaupun pihak Citibank tidak menyuruh membunuh, paling tidak dia bertanggungjawab karena dia memberikan kuasa tersebut.

“Jika pun tidak menyuruh, namun membiarkan cara kerja kekerasan seperti selama ini dipraktekkan, maka pembiaran ini juga merupakan pelanggaran pidana,” katanya.

Pihak aparat penegak hukum diharapkan dapat mengusut tuntas hal ini apakah ada perintah dan pembiaran. Jika perintah itu tersurat, maka harus bisa dibuktikan, begitu juga kalau perintah itu tersirat. Ini adalah sebuah tindakan kriminal yang luar biasa karena dilakukan di kantor Citibank.

“Jika perilaku seperti ini siapa yang berani menyelesaikan hutangnya datang ke kantor Citibank? Takut semua nasabah,” tegasnya.

Pihak Citibank harus bisa membuktikan bahwa perintah kepada debt collector yang mereka pekerjakan hanyalah untuk menagih hutang dan bukan dengan cara-cara kekerasan seperti yang banyak terjadi selama ini.

“Selama ini pihak Bank seperti yang terjadi pada kasus Citibank ini mengetahui cara-cara kekerasan yang digunakan debt collector mereka namun memang selama ini mereka menutup mata,” kata Frans.

Frans mengatakan, menggunakan jasa orang atau perusahaan untuk menagih hutang, adalah cara-cara yang bertentangan dengan hukum yang ada di Indonesia. Kalaupun ada permasalahan hendaknya pihak yang dirugikan melaporkannya kepada aparat penegak hukum.

“Kalau ada nasabah yang mengemplang hutang maka lapor polisi dan polisi yang bertindak. Polisi pun tidak boleh tutup mata. Saat ini seperti sudah menjadi rahasia umum menagih hutang dengan kekeasan dan ancaman,” kata Frans Hendra Winarta.

Sumber: Tribun News.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s